googlea8c6cc9aa051d646.html KEGELISAHAN ANAK BANGSA DAN SECERCAH SINAR TERANG SANG SURYA.

Senin, 13 Januari 2014

KEGELISAHAN ANAK BANGSA DAN SECERCAH SINAR TERANG SANG SURYA.

Tak kenal maka tak sayang untuk ke beberapa kalinya saya katakan untuk sebutan seseorang yang sebelumnya saya tak kenal. Saat saya memutuskan untuk bergabung dengan Nasional Demokrat saat itu  pula tahun 2011 adalah merupakan pertimbangan yang awalnya berdasarkan figur atau sosok pemimpin yang saya tahu karena faktor  adanya  kesamaan suku serta peninggalan sisa karisma leluhurnya. Pandangan yang sangat sempit ternyata setelah menyadari bahwa saya berpikiran demikian saat itu. Setelah saya di pinjamkan sekeping DVD oleh Bapak Riyanto Sekretaris DPD Partai NasDem , bergetar bumi ini rasaya mendengar isi Pidatonya,  Sadar atau tidak sadar bahwa kita telah menerima sejak kita lahir Jaman dimana semakin lunturnya nilai Kebhinekaan kita  yang semakin hari semakin jarang di dengungkan atau di sebut sebut. Nasionalisme yang tersisa telah di porak porandakan dengan politik pemecah belah (Devide It en vera) yang pernah dilakukan oleh bangsa lain untuk menghancurkan bangsa kita dahulu sampai sekarang. Sampai saat ini akhirnya yang tersisa hanya nilai Kebhinekaan kita yang hanya sekedar retorika semata. Saat ini saya berumur 43 tahun era dimana saat Orde Lama hanya tinggal  kisah cerita yang saya tidak pernah alami di jamannya, sehingga era Orde Barulah yang ada dalam pemikiran Nasionalisme yang ada dalam otak saya saat ini. Entah dikarenakan faktor pencucian otak yang dilakukan di era orde baru untuk menghapus semangat nasionalisme di era orde lama ? saya tidak tahu. Yang pasti dari cerita heroik dari para tetua tetua yang saya temui serta dari apa yang saya baca, dengar, dan lihat di media baik itu cerita dokumenter masa lalu di jaman orde lama yaitu era dimana Pendiri Bangsa Indonesia (Founding Father) kita Bapak Ir. Soekarno hidup, saya sangat antusias ingin mengetahui, sampai akhirnya setelah banyak sekali bahan bacaan yang masuk kedalam pemikiran otak saya,  semangat nasionalisme  itu tertular secara perlahan tapi pasti tanpa bisa dihindari. Sosok tak kenal maka tak sayang kali ini yang saya maksud adalah seorang yang mungkin hidup dimasa kecilnya dan tumbuh remaja menjadi pemuda  merasakan dua masa di jaman Orde Lama dan juga di jaman Orde Baru. Pada kedua paradigma atau sudut pandang  tersebut yang pasti akan menjadikan perbandingan berat nasionalisme yang tumbuh dalam diri seseorang untuk memutuskan menjadi nasionalisme demokrasi tanpa kepura puraan atau rekayasa. Hanya dua orang dalam sejarah saya hidup mendengar orang berbicara dimimbar dengan pidato yang menggelegar  yang dengan lantang serta gagah berani serta jujur tanpa kepura puraan berbicara tentang rencana perubahan masa depan bangsa dan negara yang membuat bulu kudukku  berdiri, membuat jantung berdegup penuh semangat, membuat hati memutuskan untuk menyingsingkan lengan baju untuk berpikir, berbuat sesuatu mewujudkan perubahan yang dimulai dari dalam diri kita terlebih dahulu. Itulah sosok SECERCAH SINAR TERANG SANG SURYA yang dihadang untuk mencuat  kepermukaan menyatukan semua visi anak bangsa. Boleh saya katakan dan anda setuju dengan apa yang saya katakan setelah mendengar PIDATONYA yang menggelegar mengetuk hati setiap anak bangsa di Republik Indonesia yang kita cintai ini. Boleh anda beranggapan semua ini hanya propaganda akan tetapi sebelum itu saya berharap siapapun untuk mendengar dia berbicara di atas mimbar sebagai seorang Negarawan Bapak Surya Paloh bersumpah atas nama Yang Maha Kuasa dalam sisa hidupnya beliau dedikasikan untuk dapat bersama sama melihat Gelombang  Arus Besar Perubahan Indonesia baru bersama Partai yang beliau dirikan sendiri yaitu PARTAI NASIONAL DEMOKRAT atau Partai NasDem Gerakan Perubahan. Oleh Evry Sudharsono 
UA-45797163-1