googlea8c6cc9aa051d646.html "Disaat seorang mengatakan paling pintar atau berpengalaman dalam berpolitik saat itu pulalah dia yang paling bodoh"

Rabu, 11 Desember 2013

"Disaat seorang mengatakan paling pintar atau berpengalaman dalam berpolitik saat itu pulalah dia yang paling bodoh"

"Disaat seorang merasa paling pintar berpengalaman  dalam berpolitik saat itu pulalah dia yang paling bodoh"   Oleh  Evry Sudharsono

Pembelajaran dalam berpolitik  tidak didapat dari pendidikan Formal seperti tingkatan dalam jenjang pendidikan sekolah namum Politik sama halnya dengan proses belajar yang terus berkelanjutan tanpa berhenti kecuali kita keluar dari ranah politik tersebut. Tangga demi tangga dimulai dari tangga pertama hingga tangga berikutnya harus di ikuti untuk mendapatkan pembelajaran dalam berpolitik. Banyak orang dalam pengamatan saya belum cukup untuk siap dalam pertarungan politik alias di paksakan, akibatnya dari itu semua yang terjadi adalah merasa paling pintar paling lama atau paling mengerti. Jikalau dalam memori kepala  belum di penuhi dengan apa yang saya namakan dengan Historical of  Politic dan Kronologi atau dalam kata lain adalah rekam jejak politik berarti anda belum belajar berpolitik dengan sebenar benarnya. Sebab hal penting yang perlu di ingat oleh  para politikus harus menguasai hal yang saya sebutkan diatas. Disetiap negara etika berpolitik berbeda beda. Yang terjadi di Indonesia politik dapat berubah setiap saat setiap waktu bahkan setiap detik. Media merupakan bagian yang penting saat ini untuk digunakan para politikus untuk menimbulkan opini publik. Sadar atau tidak sadar saat ini pikiran kita sedang dibawa oleh politikus mencerna teka teki ke arah mana politik akan membentuk opini. Cermatilah baik baik,  belajar politik semestinya dari orang yang bukan hanya lama berkecimpung di dunia politik  akan tetapi dari orang yang dapat menganalisa dampak dari Media yang digunakan untuk membentuk opini. Nasdem Kemayoran
UA-45797163-1